“Yang harus dilewati”
Di dalam ruang sempit ia menyendiri bersama bayangannya. Gumpalan gumpalan kertas memenuhi meja kayu berwarna biru dengan 3 laci kecil di bagian pinggirnya. Sandaran kursi seakan menjadi tempatnya bertumpu. Ia ingin menyerah namun hasratnya menolak dan tak mau kalah.
Anggun masih bersih kukuh ingin mengalahkan Suci. Kali ini ia tak ingin kalah lagi, Ujian Bahasa Indonesia akan dimulai besok pagi. Sedangkan jam dinding biru yang bergambar hiu sudah menunjukkan pukul 23.00 namun matanya masih enggan untuk tertutup. Mata sipit dengan kaca mata besar yang bergagang kecil seakan menjadi ciri khasnya. Terlihat seperti anak yang cerdas dan hobi membaca,namun faktanya tidak seperti itu. Matanya menjadi minus karena ia suka menonton TV dengan jarak dekat dan bermain game di komputer hingga larut malam. Tak heran bila kaca mata harus bertengger di matanya setiap hari.
Hatinya mulai gusar melihat waktu terus berlalu begitu cepat. Perasaannya khawatir dan galau tak tentu arah, ia takut tak berhasil melewati tantangan yang gurunya berikan minggu lalu.
“Duh gimana dong kalau aku nggak bisa, gimana kalau aku malu-maluin ?” terus-terusan ia bertaya pada dirinya, seakan tak bosan ia meragukan diri sendiri. Rasa takut akan kegagalan semakin menjadi-jadi. Sedangkan kemarin lusa ia telah berjanji bahwa akan berubah menjadi lebih baik dan tidak suka mengeluh lagi. Namun ternyata, rasa takut dan cemas itu masih saja ia keluhkan.
Kemudian ia mengingat sesuatu, tangannya dengan sigap meraba laci nomor 3. Ia mengambil sepotong kertas Sticky Notes berwarna biru yang berisi kutipan “Nasehat untuk diriku : Aku mengerti bahwa hidup itu harus dilalui dan dijalani bukan hanya disesali. Aku tak ingin menjadi pribadi yang suka mengeluh. Itu sebabnya mengapa aku harus bersemangat. Aku tidak boleh takut dengan apa yang akan terjadi di masa depan sebab masa depan bukanlah kuasaku. Aku hanya perlu melakukan yang terbaik hari ini dan terus melakukan yang terbaik. Terima kasih, kuharap kita bisa bekerja sama. Regards : Antara Aku dan Diriku”
Membaca tulisan itu, hatinya sedikit lega. Rasa takut cemas dan khawatirnya tidak lagi berlebih seperti beberapa menit yang lalu. Matanyapun mulai terasa berat dan badannya rindu akan kehangatan kasur empuknya.
Waktu berlalu pagipun tiba, ia terbangun dengan penuh semangat. Kali ini ibu tidak perlu repot-repot membangunkannya lagi. Dengan tekat yang kuat dan keyakinan besar di dalam hati. Ia percaya bahwa ia bisa melakukan yang terbaik dan mendapatkan nilai yang bagus. “Tak masalah bila pada akhirnya aku tak mampu mengalahkan Suci, yang terpenting aku sudah menunjukkan bakatku dan berusaha memberikan yang terbaik” Ucapnya dalam hati.
Dan akhirnya ia berhasil membuat gurunya takjub dan terkesima sekaligus terharu dengan puisi yang ia bacakan. Memang benar, segala sesuatu yang dilakukan dari hati, pasti akan sampai ke hati. Begitulah nyatanya, dan akan selalu begitu, bila tidak percaya, silahkan dicoba.
Anggunpun tersadar bahwa ketakutan-ketakutan yang ia simpan di dalam hati dan membuat nyalinya kerdil ternyata tidak terjadi. Terkadang kita memang sering dihantui oleh rasa takut kita sendiri. Namun kenyataannya ketakutan itu hanyalah opini yang kita buat sendiri. Kita tidak boleh berlarut di dalamnya. Kita harus berani melewatinya dan menghadapinya…!
#30DWC
#Squad3
#ChallengeMenulis30Hari

keren tulisannya kak. Mampir ya kak ke blog aku http://mfs62.blogspot.co.id/
BalasHapus