Kubenci Aku!!!




Bagaikan bunga indah di tengah kerumunan lebah aku merasa daya pikatku telah habis, bahkan kini aku membenci diriku sendiri, membiarkan lebah-lebah itu menikmati setiap lekuk kelopakku. Mereka berpijak pada tubuhku yang indah dan setelah habis manisnya aku segera dilupakan. Lihat, betapa teganya mereka? Aku menangis saja mereka bahkan tak peduli.

Terkadang hidup memang seperti itu, sebanyak apa pun kebaikan yang telah kita lakukan tetap ada saja yang akan mengabaikan.

Kini izinkan aku bercerita sejenak tentang apa yang membuatku kesal kepada diriku sendiri. Nirma, begitulah orang-orang memanggilku. Sebagai wanita cantik bertubuh molek dengan lesung pipi di wajah, banyak laki-laki yang tertarik padaku, dan semuanya berlomba-lomba untuk menjadi pacarku. Namun ada satu laki-laki tampan, pemuda desa sebelah yang sedari dulu aku idamkan. Wajahnya begitu rupawan, namun belakangan ini aku mengetahui bahwa dirinya adalah pemakai. Kami berpacaran sejak April lalu. Segala hal telah kita lakukan. Bahkan lebih dari sebatas bepacaran. Dan itu benar-benar membuatku merasa bersalah pada diriku sendiri. Hal itu membuatku benci pada diriku sendiri. Ia sudah berhasil merenggut harta berharga yang aku miliki. Aku benci dia, dan aku benci diriku sendiri

Aku sering sekali menyesali semua yang telah aku perbuat dengan Ardi, tapi entah mengapa setiap bertemu Ardi, aku selalu lupa apa itu dosa. Aku seakan lupa Tuhan ketika bersamanya. Tapi setelah tidak bersamanya. Aku selalu membenci diriku. Bahkan aku pernah hampir melemparkan tubuhku ke sungai, namun bersyukur ada tukang ojek yang melihat kejadian itu hingga berhasil menghentikan aksi nekatku.

Ah, kurasa cerita ini tidak perlu kuceritakan. Seharusnya aku bisa mencintai diriku sebagaimana Allah mencintaiku.

Aku tidak boleh membenci dirku. Biar bagaimana pun dialah yang selalu setia menemaniku. Betapa, betapa baiknya tubuhku, ia tetap terus tegar meski aku menyiksanya berkali-kali serta mengabaikannya setiap hari. Ia selalu bersabar terhadapku. Ya Allah, terima kasih, terima kasih telah memberiku partner hidup yaitu diriku sendiri. Meski terkadang aku terlalu lalai. Kumohon ampuni aku dan terimalah taubatku Ya Allah. Aku menyesal dan benar-benar menyesal. Astagfirullah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Dasar Pemimpi Payah !”

#CoretanTulisan Meilina Astariah

#CoretanTulisan Meilina Astariah