Perihal Sakit Hati, Biarlah Kuobati Sendiri

Malam itu, aku hanya butuh kamu. Namun, waktu sibukmu tak bisa kau sisihkan sedikit untukku. Berkabar sebentar, tanpa benar-benar menghiraukan. Hanya sebatas sapa dan kemudian aku kau abaikan. Padahal, aku hanya butuh waktumu sebentar, berbicara berhadapan meski hanya dengan video callan, namun nyatanya kau lebih memilih teman, mungkin aku memang tak lagi menjadi pusat perhatian.

Kita sudah terlalu sering kehabisan waktu untuk bisa sekadar bercerita melepas rindu. Kau terlalu sibuk di sana. Hingga lupa, bahwa hubungan jarak jauh menyisakan rindu yang menyesakkan dadaku. Kau lupa ada aku di sini yang menantimu. Kau lupa ada aku di sini yang rindu dirimu. Kau lupa akan hal itu!

Ya, kau lupa, dan lupamu tanpa sadar membuatku sakit hati. Tapi, aku tidak berharap untuk membuatmu menyesal dengan semua prilakumu malam itu terhadapku. Tidak. Aku tidak ingin lagi berharap apa pun darimu. Kau pun tidak perlu minta maaf. Kau tidak salah.

Semua sikap tidak pedulimu, semua sikap acuhmu, sudah kuterima dengan lapang hati. Aku tidak perlu maafmu berkali-kali. Semua itu sudah cukup menyadarkanku bahwa inilah saatnya berhenti. Saat cinta yang kuberi, rupanya tidak dihargai.

Tidak, aku tidak menyerah. Aku hanya ingin berhenti berharap pada laki-laki yang tidak bisa menghargai, yang tidak pernah sadar bahwa ada hati yang sedang ia sakiti, yang tidak pernah peduli bahwa di sini ada wanita yang begitu mencintainya sepenuh hati.

Aku sadar, semua rasa sakit hati yang kurasakan kini adalah rasa sakit dari diriku sendiri. Bukan darimu, bukan dari siapa pun. Salahku yang terlalu berharap banyak padamu. Dan pada akhirnya, aku tersadar bahwa kamu yang aku harapkan ternyata tidak sesuai dengan harapan. Akhirnya akulah yang paling tersakiti. Iya itu bukan salahmu, itu salahku. S A L A H K U! Salahku yang sudah terlalu dalam mencintaimu, salahku yang sudah terlalu berharap padamu.

Tugasku sudah cukup sampai di sini. Sedihku takkan kubiarkan berlarut lagi. Bila mencintaimu hanya membuatku terluka, lalu untuk apa cinta ini kuberikan untukmu? Masih banyak orang yang layak menerima cinta tulus dariku. Begitu pun denganmu. Semoga akan ada seseorang yang bisa memahamimu lebih dari aku.

Aku tidak akan pernah merengek memintamu kembali. Pergilah sejauh apa yang kakimu ingini. Lakukan semua yang membuat hatimu bahagia. Aku di sini hanya mampu mengirim doa, semoga bahagia selalu bersamamu dan terima kasih untuk semuanya. Damailah di sana, perihal sakit hati, biarlah kuobati sendiri. Kau tak perlu minta maaf lagi.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Dasar Pemimpi Payah !”

#CoretanTulisan Meilina Astariah

#CoretanTulisan Meilina Astariah