Tentang Sebuah Mimpi
"Mas, kau adalah rumah bagiku. Dan tempat ternyaman bagiku berada di dalam dekapanmu." Aku bersandar di dadanya mendongak wajahku ke atas, seketika mata kita beradu. Ia tersenyum ke arahku, seakan mengizinkanku terhanyut bersama tatapannya yang teduh.
"Dek, kau tahu, kau adalah rumah bagiku, dan tempat terindah yang pernah kukunjungi adalah hatimu," ucapnya sambil mengikuti dialegku. Kami pun tertawa bersama.
"Tak ada tempat semenyenangkan ini yang pernah aku kunjungi bila tidak bersamamu, Mas," sahutku tak mau kalah.
"Kau gombal, Dek." Ia mengacak-ngacak rambutku dengan lembut dan membuat jantungku berantakan.
Aku jatuh cinta pada laki-laki ini, entah ini yang ke berapa kali. Nyaris tak pernah terhitung berapa jumlah jatuhku, namun aku selalu yakin dia selalu ada menopangku di saat kuterjatuh. Dan tepat, aku selalu jatuh di dalam dekapannya. Tempat terfavorit yang paling menyenangkan tuk dikunjungi.
"Makasih ya, Mas." Aku memeluknya erat.
"Buat apa?"
"Makasih, untuk cinta yang selalu membuatku semangat terbangun di pagi hari, hanya sekadar untuk menyiapkan makananmu."
"Hahahaha, oalah, begitu? Bukannya gk suka masak"
"Semenjak bersamamu, apa pun hal yang tidak kusuka tapi mampu membuatmu tersenyum, akan aku lakukan dengan penuh suka cita," jawabku.
"Gombal!"
"Ih, beneran." Kulepaskan pelukanku dan berlagak ngambek.
"Hahahaha, Makasih ya, Dek." Ia menggenggam tanganku dan meletakkannya di dadanya.
"Untuk?"
"Untuk semua hal. Terutama untuk tetap terus di samping, Mas. Temani mas dalam keadaan suka maupun duka."
Alarm pun berbunyi dan ternyata aku bermimpi. Memimpikannya menyenangkan juga. Walau bukan nyata, namun bahagianya terasa meski aku telah membuka mata. Bangun-bangun hatiku dipenuhi cinta, bahagia sekali rasanya.
Walau saat ini mas tidak sedang di sampingku, aku selalu berdoa untuk kesehatan dan keselamatannya, semoga Allah memudahkan jalannya, dan melancarkan rezekinya untuk segera meminangku.
Komentar
Posting Komentar