Ketika Kita Bertanya, Semesta Pasti Menjawab
Waw, tervalidasi. Kemarin aku tidak sengaja menemukan tulisanku yang dulu. Pada tulisan itu, aku menuliskan tentang pentingnya mengejar akhirat. Intinya, bagi aku yang dulu, akhirat itu lebih penting dari pada dunia. Sekarang, aku baca itu, malah ketawa, kok bisa yah, aku percaya begitu saja dengan tulisan-tulisan yang aku baca dulu, tanpa mempertanyakannya.
Padahalkan
tidak semua tulisan yang kita baca itu benar adanya. Tidak semua guru yang kita
temui itu mengajarkan tentang kebenaran. Tidak semua hal bisa relate dengan
kita. Lucu aja, setiap kali baca tulisanku yang dulu-dulu. Aku jadi sadar, kalau
sekarang pemahamanku sudah banyak yang berubah.
Meski
kadang tulisan-tulisanku dulu sangat menggelikan jika dibaca kembali, aku sangat
mensyukurinya, karena itu artinya pemikiranku telah berkembang. Itu artinya aku
tidak berhenti untuk belajar. Itu artinya aku tetap terbuka terhadap hal-hal
baru yang membuat pola pikirku terus bertumbuh.
Entah
mengapa aku ingin menuliskan ini hari ini. Jadi tadi, aku menemukan tulisan
Bapak Wayan Mustika, yang bercerita tentang Manu dan Joko kendal sedang
berdiskusi. Joko kendal bertanya kepada Manu tentang apakah ilmu duniawi itu
penting, ataukah pengetahuan rohani dan alam akhirat yang lebih penting? Sebab
pada akhirnya semua akan pergi ke alam akhirat untuk meninggalkan dunia fana
ini. Jadi, sepertinya semua ilmu duniawi ini, matematika, fisika, kimia,
ekonomi dan sejenisnya itu tidak terlalu penting.
Mendapat
pertanyaan seperti itu, Manu tidak langsung menjawab, ia mengajak Joko kendal
ke tepi sungai dan kemudian mendorongnya. Joko kendal yang tidak bisa berenang,
menjadi panik dan gelagapan. Berkali-kali ia timbul tenggelam di air sungai
yang sebenarnya tidak terlalu dalam.
Manu
memberinya sebatang bambu, lalu bercerita panjang lebar tentang segala hal
indah, betapa bahagianya kalau di pinggir sungai ini bisa dibangun pendopo,
taman yang indah dan tempat memanggang ikan sambil menikmati aliran sungai yang
menenangkan.
Mendengar
cerita itu, Joko kendal lantas marah-marah dan berkata, “Untuk apa kau
ceritakan padaku semua keindahan dan omong-omong penuh iming-iming itu, Manu?
Aku sekarang sedang terjebak di arus sungai ini. Apa gunanya imajinasi tentang
pendopo, taman indah dan semua itu?” kata joko kendal sambil menggigil.
Manu lantas
tertawa dan menjawab, “Nah, sekarang kau tahu kan, Joko. Saat jiwamu sedang
terperosok dalam kehidupan duniawi ini, timbul tenggelam dalam suka duka
kehidupan bumi, pengetahuan apakah yang lebih berguna saat ini? Apakah ilmu
akhirat yang penuh iming-iming ataukah ilmu duniawi yang bisa dipakai menghadapi
kenyataan hidup? Bagiku, pelajarilah keduanya. Agar hidup duniawimu nikmat, dan
kondisi rohanimu juga tenang, damai dan bahagia.”
Membaca
kisah itu, aku langsung teringat tentang tulisan yang pernah kutulis dulu,
nyaris sama persis pemahamanku dengan Joko Kendal. Dan, waw, kau tahu, aku
kemudian sadar bahwa hari ini semesta langsung mengoreksiku dan memberiku
penjabaran yang masuk akal melalui tulisan Pak Wayan Mustika.
Aku percaya
bahwa tidak ada sesuatu hal yang kebetulan terjadi. Pertemuanku pada sebuah
tulisan yang tidak sengaja kubaca, merupakan jawaban dari Tuhan. Bagaimana cara
semesta mempertemukanku dengan takdirku. Aku yakin, pertemuanmu dengan tulisanku
pun adalah sebuah takdir yang telah Tuhan rancang untuk kita bertukar energi
melalui sebuah kisah.
Aku
berterima kasih pada diriku yang tidak pernah berhenti bertanya dan mencari. Aku
menghargai setiap prosesku dalam belajar memahami hidup ini, meski itu membuat
pemahamanku bisa berubah-ubah dalam waktu sekejap.
Saat ini, aku
bisa saja berpikir bahwa A lebih baik, nanti aku bisa saja berpikir ternyata B
lebih baik, dan besok bisa saja aku menemukan bahwa ternyata C yang lebih baik.
Hingga pada
akhirnya aku menyadari bahwa antara A, B maupun C sama baiknya. Tidak ada lagi
baik dan buruk. Ketika kita sampai kepada pemahaman universal. Ketika
kita melampaui segala baik dan buruk. Kita akan memandang segalanya sebagaimana
adanya. Tanpa penilain baik ataupun buruk. Semuanya menjadi netral. Dengan
begitu, tidak ada lagi perdebatan, tidak ada lagi pertikaian, tidak ada lagi
perbedaan, karena semua adalah satu. Satu keutuhan yang saling mengisi dan
melengkapi.
Namun sayangnya, kita masih di dunia, dan realitnya dunia adalah tempatnya pembelajaran. Penilaian tentang baik dan buruk itu masih ada. Alhasil, segala konflik, masalah, tragedi dan hal-hal tidak menyenangkan pasti akan kita alami, agar kita bisa belajar.
Hingga
kelak, pembelajaran itu bisa kita jadikan sebagai bekal yang tersimpan kuat di memori
untuk membantu kita jika sewaktu-waktu kita menghadapi masalah seperti yang
dialami joko kendal. Kita bisa menyelamatkan diri kita sendiri dari musibah
tersebut berbekal dari pengalaman dan pembelajaran yang telah kita alami di
masa lalu. Sehingga kita pun bisa mengambil keputusan yang tepat di masa yang
akan datang.
sejauh pengalamanku kita hanya bisa memfokuskan pada satu hal dan semua kembali pada niat kita apakah untuk mengejar dunia atau akhirat.
BalasHapusMenarik. Aku pun sependapat, bahwa kita hanya bisa fokus pada satu hal, kalau lebih itu bukan fokus namanya. Tapi, antara dunia ataupun akhirat, aku rasa tidak ada yang perlu kita kejar, karena tidak ada yang lari dari kita. Semuanya sudah ada, Tuhan sudah menyediakan semuanya untuk kita. Meskipun semua sudah tersedia, Tuhan juga tidak mungkin menyuap kita jika kita ingin makan. Kitalah yang harus berusaha untuk diri kita sendiri. Jadi, apa yg sedang kamu fokus kerjakan saat ini, itulah yang paling penting.
BalasHapuspemikiran apapun itu dari kita akan terus bertumbuh dan berubah. sekarang era digital aku harap km punya pijakan kuat untuk lompatan jauh.
BalasHapusaamiin. terima kasih sudah support aku. semoga kamu pun begitu. kalau bersedia, kamu bisa bagi link blogmu di sini, biar aku bisa mampir :)
Hapusnulis itu hobbi lamaku saat masa kuliah dulu...nanti y pasti kubagikan linknya.
BalasHapusaku tunggu, Kak
Hapus