Untuk Siapa Kebaikanmu? Untuk Membuat Orang Lain Suka atau Untuk Dirimu Sendiri?

Seharian tadi aku merenungkan diriku. Kupertanyakan kembali apa yang selama ini kuyakini. Apakah hal tersebut masih layak untuk diyakini atau tidak. Jika sekiranya tidak, maka inilah saatnya untukku membuangnya.

Aku tidak akan ragu membuang keyakinanku jika itu tidak lagi selaras denganku. Untuk apa kita mempertahakan keyakinan, jika sudah tidak sesuai lagi dengan nilai-nilai baru yang telah kita pegang. Itu hanya akan memberatkan langkah kita ke depannya bukan?

Aku sedang belajar untuk mencerna, memilah dan melepaskan hal-hal yang tidak penting lagi menurutku. Aku hanya ingin fokus kepada hal-hal yang kurasa penting. Karena aku menyadari bahwa kita hanya bisa fokus kepada satu hal saja, maka kupastikan diriku untuk fokus kepada hal-hal yang benar-benar aku inginkan dalam hidup ini.

Sepanjang perenunganku, aku menemukan ada satu hal menarik yang sepertinya perlu untuk aku ceritakan. Jadi, kemarin-kemarin aku selalu mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku adalah pribadi yang mudah disayangi. Orang-orang gampang jatuh cinta kepadaku, meski aku tidak mengerti apa yang membuat mereka bisa suka begitu mudahnya kepadaku yang baru saja mereka kenal.

Ini bukan omong kosong, aku kerap membuktikannya melalui kejadian-kejadian tidak sengaja yang kualami. Padahal aku merasa bahwa parasku tidak terlalu cantik, yah tidak jelek juga, hahaha. Otakku juga tidak terlalu cerdas dan cenderung lemot. Bodyku tidak bahenol dan cenderung pendek. Yah, intinya aku bukanlah tipe wanita idaman dengan badan proporsional dan paras yang ayu memukau.

Aku melihat diriku jauh dari kata sempurna, namun berdasarkan survei kecil-kecilan yang kulakukan kepada orang-orang yang mengaku suka kepadaku, kebanyakan mereka yang menyukaiku karena aku baik, sederhana dan apa adanya.

Bagi orang yang mengenalku sebentar, mereka sering menilaiku sebagai pribadi yang sederhana. Hmm, mereka tidak tahu saja, bahwa jauh di kedalaman diriku, aku adalah pribadi yang amat sangat  rumit.

Kesederhanaan itu hanya dari luarnya saja. Jika orang-orang mengenalku lebih dalam, mereka akan melihat dan menemukan kerumitan itu. Bahkan aku saja sering tidak mengerti dengan diriku saking rumitnya aku ini - Orang-orang terdekatku sangat tahu ini.

Nah, karena aku tahu orang telah salah menilaiku. Aku jadi takut ketika orang tahu sifat asliku. Jika mereka tahu, apakah mereka masih mau kepadaku? Apa mereka masih suka kepadaku? Itulah mengapa aku menjadi orang yang sangat tertutup dan cenderung pendiam jika bertemu dengan orang baru. Aku tidak mau orang orang-orang mengenalku lebih dalam. Karena ketika ia tahu, aku merasa orang tersebut pasti tidak akan menyukaiku lagi.

Akhirnya, aku tidak menjadi diriku apa adanya. Dan kau tahu, ini sangatlah menyiksa. Aku menjadi baik bukan karena aku memang ingin menjadi baik, tapi aku menjadi baik hanya agar orang-orang mau berteman denganku. Suka bermain denganku. Dan tidak risih jika dekat denganku.

Dulu aku merasa bahwa orang hanya akan mencintai orang baik saja. Tidak ada tempat yang layak di dunia ini bagi anak yang tidak baik. Kita dituntut menjadi baik hanya agar orang lain menjadi suka kepada kita. Kita diminta menjadi baik bukan karena kebaikan itu adalah sebuah kebaikan, melainkan karena kebaikan itu akan mengundang orang lain meyukai kita. Pemahaman ini aku dapatkan dari lingkunganku sehari-hari.

Dari semenjak aku kecil, aku melihat bahwa hanya anak-anak baiklah yang akan dicintai dan dipuji-puji oleh para orang tua. Yah, orang tua hanya akan mencintai anak yang baik-baik saja, orang tua tidak suka anak nakal, sulit diatur, rusuh dan suka buat onar. Anak-anak seperti ini akan selalu jadi perbincangan dan contoh buruk yang tidak boleh ditiru.

Di lingkunganku, jika ada anak yang sedikit saja berbeda misalnya terlalu aktif bahkan kadang berlebihan, pasti akan diomongin, disebut sebagai anak yang nakal, caper, dianggap meresahkan, dll. Lalu mereka tidak disukai oleh sekitarnya. Akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa jika ingin dicintai, maka jadilah anak yang baik.

Anak-anak yang haus kasih sayang akan berlomba-lomba berbuat kebaikan hanya agar disayang dan disukai. Meski ia tidak suka melakukan hal tersebut, mereka akan tetap melakukannya, hanya agar orang lain tetap menyukainya. Kurasa inilah sumber terciptanya orang-orang yang suka enggak enakan atau istilah kerennya sekarang people pleasure. Sungguh, ini miris sekali, melakukan sesuatu bukan karena keinginan hati yang tulus, tapi karena ingin mendapat imbalan.

Itulah keyakinanku yang dulu. Sangat memalukan. Keyakinan ini, sudah tidak selaras lagi denganku, dan inilah saatnya untukku membuangnya. Karena aku telah memahami nilai yang baru bahwa mustahil untuk kita membuat semua orang suka kepada kita.

Dan kini perlahan namun pasti, aku sedang belajar untuk jatuh cinta kepada diriku seapaadanya aku. Aku mulai belajar untuk mengakui hal-hal buruk yang selama ini selalu berusaha untuk aku tutup-tutupi. Aku tidak ingin memakai topeng terus-menerus. Aku tidak ingin disukai hanya karena hal-hal baik yang dilihat dari luarku saja.

Orang yang benar-benar menyukai kita, akan tetap menyukai kita sekalipun kita telah berbuat buruk. Orang yang benar-benar tulus mencintai kita, pasti akan tetap mencintai kita meski kita berbuat salah sekalipun.

Jika ketika kita berbuat salah dan orang tetap tidak suka walau kita telah meminta maaf, bisa dipastikan bahwa orang itu tidak layak disebut sebagai teman. Tinggalkan saja.

Di dunia yang begitu luas ini, akan selalu ada orang-orang yang tulus mencintai sesamanya, jadi jangan pernah takut tidak dicintai ketika orang-orang di sekitar kita membenci kita hanya karena kita menjadi diri sendiri.

Selama kita tetap terus menjadi diri sendiri yang apa adanya, yang jujur dan tidak dibuat-buat, teman-teman kita pun pasti akan terfilter dengan sendirinya. Hanya orang-orang yang benar-benar ingin berteman dengan kitalah yang akan bertahan.

Temukan dirimu yang sejati, maka orang-orang yang sefrekuensi denganmu akan menemukanmu. Selalu ingat bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan sendiri, Tuhan akan selalu menemani, maka belajarlah untuk menjadi berani. Khususnya Berani untuk tidak disukai.


Komentar

  1. jadi ingat istilah konstruksi-dekonstruksi-rekonstruksi. yap, ibaratkan kita menbagun rumah mengisinya terus dan terus, sampe kita merasa sumpek dan perlu menghancurkan, menyinkirkan ruang yang tak perlu atau barang yang tak perlu (dekonstruksi) , lalu merekonstruksi ulang menyederhanakan semuanya agar semua tampak lebih simple. jika ini berhubungan dengan pemikiran, perasaan apapun itu jika kita ingin maju semuanya harus mengalami perombakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kak, benar. beberapa hal dalam hidup harus kita buang dan lepaskan, agar perjalanan kita terasa lebih ringan dan mudah. analoginya bagus, kalau diibaratkan bangunan, kira-kira kamu bangunan apa kak?

      Hapus
    2. aku mow jadi sekolah taman kanak-kanak yang selalu ceria. yang selalu dipenuhi kasih sayang dan kelembutan, krn sekarang aku seperti Museum atau perpustakaan tua yang terbengkalai.

      Hapus
    3. hihi, seru ya kalau kita menjadi tempat yang penuh kasih sayang dan kelembutan bagi orang-orang yang singgah. Tapi menjadi museum dan perpustakaan juga tidak kalah serunya, orang-orang justru bisa belajar banyak dari sana, tinggal bagaimana caranya museum/perpustakaan tersebut di konsep menjadi tempat yang menyenangkan, jadi ketika pulang dari tempat itu, orang-orang tidak hanya membawa pulang pelajaran berharaga, tapi juga membawa perasaan bahagia karena tempatnya menyenangkan.

      Hapus
    4. msi harus ttp berproses. kutukan aku hanya ada di 70% untuk semua hal msi ada padaku.

      Hapus
    5. apapun yang sedang kamu hadapi, aku harap kamu selalu kuat untuk melaluinya. semangat ya kak. jangan berhenti untuk memperbesar kapasitas dirimu hingga kutukan dan sejenisnya itu tidak berhasil membuatmu mengecil, justru membuatmu bertambah besar dan kuat. semangat

      Hapus
  2. Bagaikan hidup didalam kotak yg berisi aturan dan aturan. Dengan segala sikon yg ada didalam kotak mambuat kita kuat dan pada akhirnya kita bisa keluar dari dalamnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ketika kotak itu sudah tidak muat lagi untuk menampung kita yang terus bertumbuh, sudah saatnya untuk kita melampaui kotak tersebut

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Dasar Pemimpi Payah !”

#CoretanTulisan Meilina Astariah

#CoretanTulisan Meilina Astariah