Pelajaran Tentang Keikhlasan dan Prinsip Hidup

Selama ini aku aku memiliki prinsip bahwa selagi aku bisa sendiri, aku tidak akan meminta bantuan dari orang lain. Bukan bermaksud sombong, hanya saja aku tidak ingin merepotkan orang lain, karena aku tahu setiap orang juga memiliki masalahnya masing-masing.

Karena prinsip itu, aku seringkali merasa depresi dan frustasi karena masalahku sendiri. Di saat titik tersulit sekalipun, aku tidak akan meminta bantuan, karena aku yakin Tuhan pasti akan membantuku.

Tapi, aku lupa bahwa bantuan tidak akan datang jika aku tidak pernah ikhlas membuka hatiku untuk mau menerima bantuan itu. Sebanyak apa pun bantuan dari Tuhan, tidak akan mampu menolongku jika aku tidak mau membuka diriku untuk dibantu orang.

Dulu aku menganggap bahwa meminta itu tidak keren. Aku selalu diajarkan tentang tangan di atas jauh lebih baik dari tangan di bawah. Yang artinya, memberi jauh lebih baik dari meminta. Menolong jauh lebih baik daripada ditolong.

Prinsip itu membuatku menjalani kehidupan secara individual, aku senang membantu orang lain tapi malu untuk meminta bantuan kepada orang lain, meski aku sedang sangat butuh bantuan. Aku senang memberi dan agak malu ketika aku diberi, walau aku tahu aku senang sekali ketika aku ditolong dan diberi.

Sampai pada pagi hari ini, aku benar-benar menangis, ketika membaca chat dari mama yang berkata, “Papa sayang sama kamu ... Mau ya, papa bantu kamu” lengkap dengan emoticon tangan seperti memohon.

Sebelum chat itu masuk, aku dan mama video call, kami bercerita seperti biasa, sampai pada akhirnya aku ceritakan masalahku pada mama dan mama cerita kepada papa. Mendengar cerita mama tentangku, papa menangis karena kasihan dengan anaknya.

Aku masih dengan prinsipku bahwa aku tidak mau merepotkan orang tua. Aku sudah cukup dewasa untuk bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Aku masih percaya bahwa aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Aku percaya bahwa aku masih bisa menghadapinya sendiri.

Sementara papa merasa sedih karena anaknya tidak mau dibantu, padahal ia tahu anaknya sedang kesulitan dan kesusahan menghadapi masalahnya. Sampai mama memohon padaku untuk mau dibantu oleh papa.

Saat aku menulis tulisan ini, aku jadi teringat kata-kata psikiater ketika aku konsultasi waktu itu, ia menasihatiku untuk tidak malu meminta bantuan ketika sedang butuh bantuan. “Meminta bantuan itu tidak buruk, bukan juga berarti kamu lemah, justru dengan mengizinkan orang lain untuk membantumu, kamu bisa meneruskan kebaikan itu kepada orang lain yang juga membutuhkan bantuanmu.”

Setelah aku menangis karena terharu atas baiknya Tuhan kepadaku, aku buka sosial mediaku, dan kutemukan tulisan pak Wayan Mustika yang berkata:

“Sungai tidak merasa rendah diri saat menerima aliran air dari danau. Ia hanya merasa itu tugas yang harus diteruskan untuk memberi manfaat bagi kehidupan. Samudera pun tidak merasa rendah diri ketika harus menerima air dari danau dan sungai. Bagiku, saat aku menerima bantuan, aku merasa si pemberi bantuan adalah perwujudan Tuhan yang menguji keikhlasanku. Saat aku memberi bantuan, maka aku merasa yang menerima adalah tangan Tuhan yang menguji ketulusanku. Semua hanya berkah Tuhan yang sedang memutar roda kebaikanNya.”

Aku terkejut ketika menemukan tulisan ini. Mengapa bisa persis sekali dengan apa yang sedang aku alami. Sepertinya hari ini semesta memang sedang memberiku materi pelajaran tentang sebuah keikhlasan.

Ini sangat menakjubkan, setiap kali aku sedang sedih dengan masalahku, Tuhan selalu punya cara memberiku jawaban melalui hal-hal yang tidak aku sangka-sangka. Ketika aku tahu apa tema pelajaran yang aku terima hari ini, aku tidak merasa terpuruk lagi, karena memang masalah itu hadir untuk memberiku pelajaran.

Selalu ada berkat tersembunyi di balik kesialan dan ketika kita bisa melihat berkat tersebut, kita tidak akan menganggap suatu kesialan sebagai hal yang buruk lagi. Karena kesialan adalah hal baik yang sama baiknya dengan keberuntungan.

Aaaah, aku terharu. Terima kasih diriku, terima kasih telah bersedia membuka mata dan menyadari bahwa berkat dari Tuhan tak pernah habis, selalu ada mengalir dalam hidupku. Sehingga aku pun bisa membagikan berkat-berkat itu kepada siapa pun yang membutuhkannya.

Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Aku mencintai hidupku, aku mencintai diriku, aku pun mencintaimu. I love you so much.

Komentar

  1. tidak ada yg salah dengan prinsip itu, kecuali krn kau berpikir lebih jauh dari mereka... akhirnya km kebingungan saat org2 dan lingkungan tdk memberimu support. y itu resiko tak menyadari berada di depan sendirian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. seperti semut yang kehilangan jejak teman-temannya, kebingungan sendirian tanpa tahu arah

      Hapus
  2. km hanya berbeda...krn km membaca, coba km g ada isinya pasti g ada bedanya. km jd seperti putri Elza saat km tak mampu mengendalikan kekuatanmu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. elsa yang di forezen itu? kamu suka nonton forezen ya kak?

      Hapus
    2. aku nonton ma ponakanku yg cantik...

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Dasar Pemimpi Payah !”

#CoretanTulisan Meilina Astariah

#CoretanTulisan Meilina Astariah