Selamat Ulang Tahun Mama dan Papa

Bulan Agustus menjadi bulan yang penting di dalam keluargaku. Karena mama dan papaku lahir di bulan ini. Aku merasa sangat beruntung karena masih memiliki orang tua yang selalu menanti kepulanganku kapan pun itu. Karena banyak yang aku temui, tidak semua anak memiliki rumah yang nyaman untuk menyambut mereka pulang.

Terlepas dari ketidaksempurnaannya cara orang tuaku mendidikku, tapi sampai saat ini, mereka selalu ada untukku kapan pun aku butuh. Dulu aku merasa kesal ketika aku dituntut harus menjadi seperti yang orang tuaku mau, aku merasa marah ketika aku diatur harus begini dan begitu, aku merasa jengkel karena sering dilarang ini dan itu.

Semua perasaan itu muncul, karena aku tidak paham bahwa tindakan menyebalkan yang mereka lakukan bersumber dari rasa khawatir yang besar di balik cinta yang juga besar.

Orang tuaku selalu merasa khawatir jika anaknya kenapa-napa, itulah sebabnya mereka menjagaku dengan berbagai amukan, aturan dan larangan. Melarang anaknya melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya sendiri. Menyuruh anaknya, mendikte anaknya, semua itu dilakukan karena kekhawatiran dan harapan.

Ada harapan yang besar yang mereka sematkan padaku. Dan ketika harapan itu tidak terwujud, mereka menjadi takut, hingga mereka melakukan tindakan-tindakan yang tanpa mereka sadari justru itu membuat anak mereka merasa terluka.

Ketika anak terluka, ia akan menjadi anak yang kesulitan untuk mengenali dirinya sendiri. Ia menyimpan marah benci dan kesal yang tidak bisa ia keluarkan karena takut menjadi anak durhaka. Ia menjadi anak yang tidak mengerti mengapa ia bisa terluka tanpa sebab.

Padahal ketika disadari ternyata semua itu bersumber dari ketidakpahamannya. Ia tidak paham bahwa semua terjadi sebagai bentuk pendewasaan untuknya. Ia tidak paham karena pengetahuan-pengetahuannya dihalangi oleh luka yang menciptakan ego sehingga ia kesulitan memahami setiap pesan yang ingin disampaikan oleh kejadian-kejadian tidak mengenakkan.

Bertahun-tahun, aku memandam keluhan terhadap sikap orang tuaku yang sering menuntut dan membandingkanku dengan orang lain, melarangku melakukan hal-hal yang ingin aku lakukan karena mereka takut itu tidak ada manfaatnya untukku, memaksaku melakukan hal yang sulit untuk dilakukan.

Semua keluhan itu kusimpan rapat-rapat di dalam hati, tidak pernah kuutarakan, tak ingin aku ceritakan kepada siapa pun, bahkan tak ingin aku mengingatnya. Tapi tanpa sadar, keluhan itu menyabotase kepribadianku.

Aku menjadi anak yang pemalu, penakut, tidak berani berbicara, tidak berani menjadi diriku sendiri. Karena setiap kali aku mengeluh, aku akan dikatakan lemah, aku akan dikatakan payah, ketika aku menangis aku akan disuruh segera berhenti. Ucapan-ucapan mereka membuatku sangat terluka.

Sebagai anak kecil yang cara berpikirnya masih sangat sempit, aku menganggap orang tuaku jahat, mereka tidak mengerti perasaanku, mereka hanya peduli perasaan mereka, tapi ternyata aku salah. Ketika aku sudah mampu berpikir dengan baik, aku menyadari bahwa mereka begitu karena ingin aku menjadi anak yang kuat.

Setelah aku menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan pikiranku, aku mencoba untuk menguraikan kembali perasaan-perasaanku, aku masuk ke dalam diriku, menemui semua emosi-emosi terpendamku, hingga akhirnya aku menemukan akar penyebab masalahku. Aku pun mencoba untuk memberanikan diri mengkomunikasikan perasaan-perasaan terpendamku kepada mama dan papa.

Di awal-awal proses penyembuhanku, kami sering kali berdebat karena kesalahpahaman. Tapi, seiring berjalannya waktu, dan besarnya cinta orang tuaku. Komunikasi kami lambat laun membaik.

Dan aku menyadari bahwa semua yang aku pikirkan dulu ternyata salah. Ada pemahaman baru yang aku dapatkan hanya ketika aku mengutarakan perasaanku, pemahaman itu adalah: mereka melakukan itu karena mereka takut, mereka takut anaknya menjadi lemah, mereka ingin memotivasi anaknya agar menjadi anak yang kuat.

Walau tanpa mereka sadari, cara semacam itu justru telah membuat anak kesayangannya ini menjadi anak yang minderan, yang tidak percaya diri dan sangat pemalu. Tapi sekarang aku sudah mengerti, mereka melakukan itu juga karena murni ketidaktahuan mereka tentang bagaimana cara mendidik anak.

Sebelum menikah, mereka tidak pernah diajarkan cara mendidik anak dengan baik dan benar. Mereka tidak diajarkan bagaimana cara mengontrol emosi agar tidak menyakiti hati anak. Sehingga ketika mereka memiliki anak, mereka kelabakan, mereka tidak mampu mengontrol emosi mereka ketika menghadapi anak yang menyebalkan. Mereka tanpa sadar mengadopsi semua cara-cara yang mereka lihat dari orang tua mereka dulu untuk diterapkan ke anak mereka, dan sebagiannya lagi mereka belajar secara otodidak, tidak ada yang pernah mengajarkan mereka tentang bagaimana cara mendidik anak selain dari pengalaman. Dan aku memaklumi ini.

Ketika aku sudah memahami hal tersebut, aku bersyukur sekali karena telah dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua seperti mama dan papa. Karena meski mereka tahu aku memiliki banyak sifat buruk, tapi mereka selalu bersedia membesarkanku hingga saat ini.

Setelah aku bertemu dengan banyak cerita orang, aku menyadari bahwa tidak semua orang seberuntung aku. Tidak semua orang bisa menemukan cinta di dalam keluarganya. Sementara aku, sedari kecil tidak pernah sekalipun merasakan yang namanya kekurangan cinta dari keluarga. Aku selalu mendapatkan cinta yang bertubi-tubi dari orang tuaku.

Keluargaku selalu ada untukku walau seburuk apa pun tingkahku, sebanyak apa masalahku, keluarga selalu menjadi tempatku untuk kembali. Dan keluarga selalu menerimaku bagaimana bentuk wujudku, bagaimana buruknya sifatku.

Mama dan papa memang suka memarahiku, tapi semua itu mereka lakukan karena aku adalah anak yang mereka sayang. Aku adalah anak yang mereka harapkan. Aku adalah anak mereka. Air mataku jatuh saat menuliskan ini. Aku mengingat semua bagaimana baiknya mama dan papa yang telah dengan tulus merawatku.

Papa bekerja untuk memenuhi kebutuhanku, sekolahku, kuliahku, selalu papa usahakan untuk terpenuhi. Mama selalu ada disampingku bersedia mendengar cerita-ceritaku, keluh kesahku, walau terkadang kami sering berdebat karena berbeda pendapat, tapi kami tetap saling menyayangi.

Mama dan papa selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku. Dan aku bersyukur karena mereka telah memberiku begitu banyak pelajaran hidup. Terima kasih mama dan papa. I love you so much. Happy birthday to you.

Aku harap kalian tidak terlalu mengkhawatirkanku. Aku tidak ingin dimotivasi dengan rasa takut dan khawatir, aku hanya perlu didukung dengan kepercayaan dan cinta. Karena cinta dan kepercayaan yang tulus dari kalian, sangat cukup menjadi bahan bakar dan kekuatanku untuk bergerak mewujudkan harapan-harapan kalian. Semoga aku bisa memenuhi semua harapan-harapan itu. Dan kuharap kalian tidak berharap padaku secara berlebihan. Aku akan melakukan yang terbaik untuk kalian bahkan tanpa kalian minta. Tak perlu takut dan khawatir, aku sudah belajar cukup banyak pelajaran hidup dari kalian, dan itu cukup menjadi bekalku untuk meneruskan hidupku di masa yang akan datang. Terima kasih telah membesarkanku. Aku sangat menyayangi kalian.

Komentar

  1. pendidikan orangtua dulu memang tidak mengedepankan perasaan. cendrung memaksakan... tp kita belajar ttg konsep baru. aku tau seperti aku, km jg telah coba menerapkan pendidikan karakter. dan pola2 pendidikan lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar kak, meski cara orang tua memperlakukan kita seringkali tidak sesuai dengan yang diharapkan, tapi dari mereka kita selalu bisa belajar, dan terus belajar

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Dasar Pemimpi Payah !”

#CoretanTulisan Meilina Astariah

#CoretanTulisan Meilina Astariah