Bahasa dan Matematika
Jika tidak
salah aku pernah membaca sebuah tulisan yang mengatakan bahwa matematika adalah
bahasa yang Tuhan gunakan ketika menciptakan alam semesta. Aku kemudian berpikir jika
begitu, apakah hanya orang-orang yang paham matematika yang mampu memahami
tentang dunia?
Ketika aku
pikir-pikir lagi, sepertinya iya, karena para penemu-penemu yang kita kenal
namanya hingga saat ini rata-rata ahli di bidang matematika. Seperti Alexander
Graham Bell, Isaac Newton, Albert Einsten, Thomas Alva Edision, dll. Mereka
semua ahli matematika dan mereka menemukan hal-hal yang dibutuhkan oleh dunia.
Apakah ini
artinya mereka telah mengerti bahasa Tuhan? Sehingga mereka diberi anugerah
oleh Tuhan untuk menjadi seorang penemu yang kelak karya-karyanya digunakan
oleh orang banyak? Waw, beruntung sekali orang-orang yang mengerti matematika.
Lalu
bagaimana kabarnya dengan aku, untuk memahami rumus yang sudah ada saja otakku
sudah hampir meletus apalagi menemukan rumus yang belum ada menjadi ada. Hebat
ya, orang-orang yang bisa mengerti bahasa yang rumit.
Tapi
sepertinya setiap bahasa tidak ada yang rumit, semuanya tergantung dari
kebiasaan. Seperti orang indonesia tidak pernah kesulitan belajar bahasa
indonesia karena dari kecil sudah diajarkan berkomunikasi dengan bahasa itu,
begitu pula dengan orang-orang yang menggunakan bahasa arab, bahasa inggris, bahasa
biner, bahasa java, bahasa python, bahasa tubuh, bahasa kalbu dan bahasa-bahasa
yang lain.
Banyak juga
ya bahasa di dunia ini, di daerahku saja yang cakupannya sebatas provinsi sudah
ada 3 bahasa. Bahasa sasak, samawa, mbojo, itupun dari ketiga bahasa meski
bahasa yang digunakannya sama, jika daerahnya berbeda bahasanya juga ada
bedanya, seperti di Sumbawa Besar dan Sumbawa Barat, dua daerah ini sama-sama
menggunakan bahasa samawa, tapi tetap saja ketika berkomunikasi ada saja
bedanya.
Bercerita
tentang perbedaan, nah di dalam matematika juga sudah ada rumusnya untuk
menyelesaikan suatu pertidaksamaan, dan yah lagi-lagi rumusnya akan sulit
dimengerti jika kita tidak mengerti simbol-simbol, huruf dan angka yang
digunakan.
Ketika aku
membuka buku catatan kuliahku dulu, satu persatu kuperhatikan tulisanku, kubaca
materi yang pernah diajarkan oleh dosenku, ada kalkulus, matematika diskrit,
matriks, grafika, dll yang membuat kepalaku ingin mengeluarkan asap.
Memori membawaku
bernostalgia ke jaman itu, saat itu aku hanya duduk di ruang kelas mendengar
dosen menjelaskan, hanya mendengarkan tanpa benar-benar memahami. Ketika dosen
memberikan tugas, aku kerjakan berdasarkan rumus-rumus yang diberikan, walau
aku tidak memahami.
Hitung-hitungan
menjadi gampang ketika kita tahu rumusnya, walau kita tidak benar-benar paham.
Tinggal ikuti saja rumus yang ada lalu kerjakan, pasti akan ketemu juga
hasilnya. Kita tidak perlu memahaminya yang penting kita tahu rumusnya,
begitulah prinsipku dulu. Hanya sebatas tahu tanpa mau memahami. Suatu mindset
yang sangat keliru.
Dulu aku
tidak peduli apakah jawabanku benar atau salah, yang penting aku dapat
hasilnya, lalu masalah akan beres. Namun, ketika aku membaca lagi buku
catatanku itu dengan kesadaran dan mindset yang berbeda, aku pun menemukan
pemahaman yang berbeda pula.
Aku
menyadari bahwa rumus itu tidaklah hanya sekadar hitung-hitungan belaka. Ada turunan-turunannya
dan masalah di baliknya, masalah yang juga berhubungan dengan kehidupan.
Maksudku, rumus-rumus itu ada bukan hanya untuk menyelesaikan masalah dalam
dunia matematika, tapi juga kehidupan kita.
Seperti
ketika aku membaca materi tentang pertidaksamaan. Pertidaksamaan yang
dilambangkan dengan bahasa matematika sangatlah rumit dan rasanya tidak penting
untuk dipahami. Tapi dalam kehidupan nyata, kita seringkali menghadapi
pertidaksamaan ini bukan? Kita seringkali dihadapi oleh perbedaan-perbedaan
yang tak jarang membuat kita berkonflik.
Dan kurasa tidak
ada manusia yang menggunakan rumus matematika untuk menyelesaikan masalahnya
dalam pertidaksamaan yang dialami. Karena bahasa matematika, bahasa yang rumit
dan tidak semua orang menyukainya. Angka simbol huruf yang nampak tidak
berguna.
Seperti
yang aku tuliskan di catatanku, rumus menyelesaikan pertidaksamaan, jika dijelaskan
dengan bahasa manusia adalah seperti ini: untuk menyelesaikan suatu
pertidaksamaan adalah dengan mencari semua himpunan bilangan real yang membuat
petidaksamaan berlaku. Himpunan bilangan real ini disebut juga himpunan
penyelesaian. Lihat, sudah dijelaskan dengan bahasa manusia saja, pengertian
semacam ini masih butuh waktu untuk dicerna dan dipahami, apalagi jika hanya
dijelaskan dengan bahasa simbol-simbol?
Tapi jika
kita memahaminya kita akan menyadari bahwa matematika sangatlah luar biasa. Itu
sebabnya ia sulit untuk dipahami, karena hanya orang-orang yang memiliki
pemikiran yang luar biasalah yang dapat memahaminya.
Ada bagitu
banyak rumus matematika yang membuat kepala pusing karena bahasa, istilah dan
simbol-simbolnya yang tidak biasa itu. Namun, ketika kita bisa memahami itu,
permasalahan dalam hidup kita pun sebenarnya bisa selesai dengan rumus itu.
Hanya saja kita tidak tahu bagaimana cara mengimplementasikan rumus itu dalam
kehidupan kita sehari-hari.
Dulu aku
tahu matematika hanya hitung-hitungan untuk jualan dan hitungan-hitungan yang
tidak penting, yang hanya berlaku untuk para ilmuwan menghasilkan suatu
penemuan, namun ternyata dalam kehidupan sehari-hari kita pun, kita bisa
menggunakannya jika kita memahaminya. Dan permasalahannya, memahaminya itulah
yang tidak mudah.
Bagaimana
ya cara mudah untuk memahami suatu? Apakah ini sudah ada rumusnya? Jika ada,
ajarkan padaku ya. hihi.
semua butuh perhitungan iya itu benar, tp para penemu yg genius telah menjadi Atheis dan membawa generasi Erofa dan Amerika berpikir logic bahwasanya memeluk agama adalah sesuatu pilihan yang kolot.
BalasHapus