My Mother is My Hero
Sebagai
anak tertua di dalam keluarga, Anggun melihat sangat jelas betapa perjuangan
seorang ibu sangat luar biasa dalam menghidupkan keluarganya seorang diri. Ibu
adalah sosok pahlawan dimata gadis yang saat ini berusia 17 tahun. Tanpa
seorang ibu, mungin sekarang ia sudah hidup di kolong jembatan dan
meminta-minta dijalanan.
Lahir
sebagai seorang kakak membuatnya merasa punya tanggung jawab besar untuk
menjadi pribadi yang layak dicontoh oleh adik-adiknya. Saat inilah makna nama ‘Anggun’
yang dulu diberikan oleh sang ayah tercapai. Besar harapan agar anaknya tumbuh
menjadi pribadi yang lemah gemulai seperti wanita kebanyakan. Ayahnya ingin
sekali melihat anak pertamanya itu berprilaku Anggun seperti namanya. Namun
belum sempat melihat perubahan tersebut, sang pencipta telah lebih dahulu
memanggilnya.
Sifat
manja dan malasnya memang tak 100% berkurang, namun perubahan sedikit demi
sedikit menggambarkan bahwa ia benar-benar telah bertumbuh menjadi pribadi yang
dewasa.
“Hooooaaaaaammmmm”
Anggun menguap dan menutup mulutnya. Paginya langsung semangat ketika melihat
sang ibu membersihkan meja biru yang semalam ia gunakan untuk belajar dan
kelupaan untuk dirapikan.
“Duh
ibu akoh baik banget deh, maafkeun anakmu yang malas ini yah bu” Goda anggun
dengan nada centil, ia memang sering bercanda dengan sang ibu. Mereka memang
sangat dekat bagaikan adik dan kakak karena sifat ibunya yang selalu
menempatkan diri sebagai sahabat bagi anak-anaknya.
Ibu
Anggun sangat cerdas memposisikan dirinya, disaat anggun butuh bantuan ia
bertindak seperti guru, disaat Anggun butuh teman curhat ia bertindak sebagai
sahabat. Hubungan dekat antara ibu dan anak ini terkadang membuat teman-teman
Anggun merasa iri ketika melihatnya.
“Malas
itu wajar nggun, asal jangan kebiasaan dimanjain, kita harus ngelawan. Jangan
mau dikalahin sama rasa malas sendiri, katanya mau sukses, tapi kamar sendiri
masih ibu bantu beresin” ibu memberi nasihat sambil duduk disamping anggun dan
menarik selimut yang sedari tadi menutupi badannya.
“Ah
ibu, Anggunkan juga manusia. Bercita-cita untuk sukseskan juga wajar” Anggun
berdalih seakan membenarkan kemalasannya.
“Tapi
orang sukses itu nggak ada yang malas kayak kamu! Sudah-sudah bangun jangan
mimpi terus, nanti pukul 9 kamu ada kerja kelompokkan” ibupun beranjak keluar
dari kamarnya.
“Siap
my ibu” ucap anggun sambil mengucek matanya dan bergegas melipat selimut agar
tidak terhanyut lagi oleh rayuan bantal dan guling yang begitu menggoda dipagi
hari.
Satu-satunya
alasan terkuat Anggun berani bermimpi adalah karena sang ibu. Awal mimpinya ini
ia mulai ketika melihat ibunya yang setiap hari selalu bekerja keras. Betapa
beruntungnya ia diizinkan tuhan untuk menyaksikan contoh nyata bahwa seorang
wanita bisa sangat berdaya dan tak kalah hebat meski harus meghidupkan 3 anak
seorang diri.
Komentar
Posting Komentar