Belajar Menerima Realita
“Semua masalah akan menjadi ringan apabila seseorang ikhlas menjalani dan berlapang dada menerima kenyataan”
Aku baru
saja menemukan kata-kata itu dan tertarik untuk membagikannya di sini. Beberapa
hari kebelakang, aku terlalu banyak bercerita tentang masalah, merasa hidupku
menderita dan banyak bencana.
Kali ini,
aku akan berbagi tentang keikhlasan dan berlapang dada dalam menerima segalanya
dengan apa adanya.
Seringkali yang
membuat kita menderita adalah ekspektasi kita sendiri. Kita menciptakan skenario
di kepala dan menarik semua perasaan takut dari kejadian-kejadian yang
sebenarnya belum tentu akan terjadi di dunia nyata.
Lupa bahwa
satu-satunya waktu yang dimiliki hanyalah saat ini, detik ini, menit ini. Huuffttt,
belajar mengerti bahwa masa lalu telah terjadi dan tidak dapat diubah serta memahami
bahwa masa depan belum terjadi tak perlu dikhawatirkan berlebih.
Namun,
tentu saja, berkata-kata sangatlah mudah, sementara untuk mempraktikkannya,
hmm, tak perlu kujelaskan lagi. Kuyakin kau pasti tahu jawabannya.
Bagiku, setiap
hari adalah suatu praktikum dalam hidup tentang apa yang telah kita pelajari di
masa lalu. Kejadian demi kejadian yang kita alami, selalu memberikan kita
pelajaran berarti yang bukan hanya sekadar teori.
Kita telah
belajar banyak tentang teori. Dan belajar mempraktikkan setiap teori itulah yang
seringkali kita sebut sebagai masalah dan ujian. Padahal sebenarnya, itu
hanyalah tugas praktikum yang Tuhan beri agar kita mengingat kuat tentang teori
apa yang telah kita pelajari melalui pengelaman-pengalaman yang kita lalui.
Misalnya,
kita ingin belajar sabar. Segala teori tentang kesabaran telah kita pelajari
dari berbagai sumber. Tentu akan menjadi kurang rasanya bila kita tidak
diberikan situasi yang menguji kesabaran kita. Itulah kehidupan. Namun,
seringnya kita malah protes ketika ada kejadian yang tidak mengenakkan.
“Duh kenapa
sih Tuhan kirimkan orang kayak gini kehidupku? Duh apa-apaan sih, kok ada orang
seperti ini? Kenapa jadi kayak gini sih! Nyebelin!” protes kita dalam hati. Padahal
itu hanya cara Tuhan untuk membuat kita paham dengan teori sabar yang kita
pelajari saat ini, agar kita tidak hanya pandai di teori tapi juga pandai dipraktik.
Dan di saat kita bisa menjalankan praktikum itu dengan baik, itulah yang dinamakan
kita telah belajar secara utuh.
Segala hal
yang terjadi hanyalah rentetan praktikum demi praktikum yang Tuhan izinkan
untuk kita lalui agar kita tidak hanya pandai menghapal teori namun juga
memiliki nilai lebih karena telah belajar dari pengalaman sendiri.
Dan kali
ini praktikum yang sedang Tuhan izinkan aku jalani adalah tentang belajar
ikhlas dan menerima. Karena setelah hari-hari yang kulalui kemarin penuh dengan
kesedihan dan kebahagian yang datang silih berganti.
Banyak hal
yang telah digenggam erat-erat, tapi akhirnya lepas juga. Yang telah lama dinanti,
tapi tak kunjung datang. Yang diperjuangkan sekuat hati, tapi malah
menghancurkan. Yang diharap-harapkan juga seringkali mengecewakan.
Sempat bingung
dengan apa yang harus dilakukan. Tapi beruntung di dalam setiap malam-malam
yang gelap, selalu ada bintang yang setia menemani dan berbisik, bahwa tak ada
yang perlu digenggam erat-erat, tak ada yang perlu dinanti-nanti, tak ada perlu
diperjuangkan, dan tak ada yang perlu diharapkan.
Yang telah
menjadi takdirmu, akan tetap menghampirimu. Selama kamu tidak pernah berhenti
berusaha dan berupaya, Tuhan akan selalu membantumu.
Berhenti
mengenggam dengan erat, sebab itu menyakitkan. Berhenti menanti, karena ia
takkan datang jika kau tak bergerak. Berhenti berjuang terlalu keras, bila itu
membuatmu lupa untuk beristirahat. Berhenti berharap, karena itu akan membuatmu
terluka jika hasilnya tidak sesuai.
“Lalu apa
yang harus kulakukan?” tanyaku padanya. “Selalu ikuti kata hatimu, ikuti tanpa
ekspektasi. Kau kan dapati, bahwa segalanya telah tersedia untukmu.”
Aku selalu
berusaha untuk mendengar apa yang kata hatiku sampaikan, namun terkadang aku
seringkali tak mengikutinya. Egoku kadang terlalu besar, dan rasa malasku pun
cukup tinggi. Dan setelah kuperhatikan, itulah yang sering membuatku bersedih.
Aku tak
mengikuti kata hatiku, meski aku sering mendengarnya. Ah, ini selalu perkara sederhana.
Tapi tetap tidak menjadi sederhana, karena pikiranku telah membuat skenario yang
cukup rumit. Aku benar-benar harus belajar mengondisikan pikiranku agar aku
tidak lagi membuat skenario yang sebenarnya tidak terjadi.
Aku hanya
perlu mengikuti kata hatiku, menjalani hidupku hari demi hari, menjalankan dan
mengerjakan apa yang seharusnya aku kerjakan. Tanpa harapan, tanpa ekspektasi,
karena manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan.
Dan semoga
kita selalu diberi kekuatan untuk bisa menerima kenyataan seapa adanya. Sebab
menerima realita memang tidaklah mudah, namun itu membuat kita merasa lega dan
mengurangi masalah yang sumbernya seringkali dari dalam diri kita sendiri yang ingin
menolak segalanya. Belajarlah untuk melatih diri untuk menerima realita hidup ini.
hidup selalu ada tekanan, dari dalam diri, ataupun dari luar... begitulah hidup, setiap saat kita harus memperbarui diri menjadi lebih kuat. kukatakan itu pada ponakanku yang mulai bandel saat beranjak remaja, ia tumbuh dengan cepat padahal serasa baru kemarin aku bercerita tentang kelinci lucu yang nakal yg melompat-melompat masuk dari pintu belakang tuk mencuri sayuran-sayuran nenek...dan bla... bla...harapanku ia bertahan ttp diatas gelombang...
BalasHapushidup memang seperti itu, selalu seperti yang kita pikirkan, tapi ketika kita mengubah pikiran kita, segalanya pun akan berubah
Hapus